Rabu, 17 Februari 2010

PROPOSAL TUGAS AKHIR

PENGARUH BERBAGAI SPESIES MURBEI (Morus sp)
SEBAGAI PAKAN ULAT SUTERA (Bombyx mori L.)
TERHADAP PRODUKSI KOKON



PROPOSAL
TUGAS AKHIR (TA)







Disusun Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Menyelesaikan Tugas Akhir Di Politeknik Negeri Jember Jurusan Manajemen Agroindustri Program Studi Manajemen Agribisnis



Disusun oleh :
RIKI SONDARI
K40506 12





DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL
POLITEKNIK NEGERI JEMBER
2010
I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Produksi benang sutera Indonesia belum mencukupi kebutuhan. Untuk mencukupi kebutuhan tersebut diperlukan upaya peningkatan produksi kokon dan benang sutera yang berasal dari hasil pemeliharaan ulat sutera. Makanan ulat sutera adalah daun murbei. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk memperoleh produksi kokon yang maksimal serta benang sutera sesuai dengan target yang ditetapkan adalah pengembangan tanaman murbei yang baik untuk pakan ulat sutera. Salah satu kendala bagi usaha tani persuteraan alam di Indonesia pada umumnya adalah produktivitas kebun murbei yang relatif masih rendah, yaitu ± 8 ton/ha/th (Sulthoni, 1981).
Murbei (Morus sp) adalah salah satu jenis tanaman yang tergolong dalam famili moraceae yang daunnya digunakan sebagai bahan makanan ulat sutera (Bombyx mori L.) yaitu spesies serangga penghasil benang sutera yang mempunyai nilai ekonomi tinggi. Tanaman murbei banyak tumbuh di daerah tropis dan subtropis pada daerah sampai ketinggian 700 m dari permukaan laut dengan suhu rata-rata 210 - 250C. Katsumata (1964), dalam Atmosoedarjo, dkk (2000).
Tanaman murbei tidak menuntut persyaratan ketinggian tertentu, sebab ketinggian berapapun murbei bisa tumbuh. Tanaman murbei dapat tumbuh didaerah tropis dan subtropis. Beberapa tempat di Indonesia banyak ditemukan murbei tumbuh secara liar. Ulat sutera lebih cocok berkembang baik ditempat beriklim sejuk, sehingga murbei paling ideal ditanam dengan ketinggian berkisar 400-800 di atas permukaan laut. Nazarudin dan Nurcahyo (1992).
Ulat sutera Bombyx mori L. merupakan hasil usaha tani persuteraan alam masyarakat pedesaan yang turut berperan dalam menunjang pembangunan nasional. Untuk lebih memberdayakan usaha tersebut diperlukan suatu perangkat yang dapat meningkatkan kuantitas dan kualitas kokon, sehingga pada akhirnya meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani sutera.
Ulat-ulat sutera yang telah mengalami pergantian kulit empat kali dan makan daun murbei cukup, maka kelenjar suteranya tumbuh menjadi besar dan isi badannya sebagian besar tediri atas kelenjar tersebut. Karena itu, badan ulat sutera tembus cahaya dan dari mulutnya mulai mengeluarkan serat sutera. Ulat sutera yang demikian dikatakan sebagai ulat sutera yang siap mengokon. Katsumata (1964), dalam Atmosoedarjo, dkk (2000).
Kokon ulat sutera merupakan pelindung pupa yanmg terbuat dari serat-serat sutera yang dijalin oleh larva bila hendak membentuk kepongpong atau pupa. Agar pengokonan berjalan dengan baik, ulat perlu disediakan tempat khusus sebagai tempat menempelnya kokon.
Produksi benang sutera Indonesia belum mencukupi kebutuhan. Untuk mencukupi kebutuhan tersebut diperlukan upaya peningkatan produksi kokon dan benang sutera yang berasal dari hasil pemeliharaan ulat sutera. Makanan ulat sutera adalah daun murbei, salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk memperoleh mutu kokon segar yang maksimal serta benang sutera sesuai dengan target yang ditetapkan adalah dengan pemberian pakan yang baik.
Salah satu cara memperoleh produksi kokon berkualitas baik adalah dengan pengaturan suhu dan kelembaban ruangan pemeliharaan sesuai dengan pertumbuhan ulat, pemberian daun murbei yang berkualitas baik dan jumlah yang cukup serta melaksanakan desinfeksi ruangan dan peralatan pemeliharaan. Hatta dkk (1980), dalam Atmosoedarjo, dkk (2000).
1.2 Rumusan Masalah
Daun murbei merupakan satu-satunya pakan ulat suter Bombyx mori L. Saat ini sudah di dapatkan beberapa varietas murbei yang baik untuk pakan ulat sutera diantaranya: Morus alba var. Kanva-2, M. Multicaulis, M. Cathayana, M. Alba. Var, Kakuso dan masih banyak lagi varietas murbei yang digunakan sebagai pakan ulat sutra. Penelitian yang mengarah pada Pengaruh Berbagai Spesies Murbei (Morus spp) Sebagai Pakan Ulat Sutera (Bombyx mori L.) Terhadap Produksi Kokon dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut:
1. Apakah pemberian daun murbei spesies multicaulis sebagai pakan ulat sutera akan meningkatkan produksi kokon?
2. Apakah pemberian daun murbei spesies cathayana sebagai pakan ulat sutera akan meningkatkan produksi kokon?
1.3 Tujuan Penelitian
Penelitian Tugas Akhir ini bertujuan untuk :
1. Mengetahui pengaruh pemberian pakan spesies Multicaulis terhadap produksi kokon yang dihasilkan.
2. Mengetahui pengaruh pemberian pakan spesies Kanva terhadap produksi kokon yang dihasilkan.
3. Mengetahui pengaruh pemberian pakan campuran terhadap produksi kokon yang dihasilkan.
1.4 Manfaat Penelitian
Penelitian Tugas Akhir ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai bahan informasi pengembangan ilmu pengetahuan bagi petani sutera dan mayarakat pada umumnya untuk memperoleh produksi kokon yang maksimal.



















II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Penelitian Terdahulu
Samsijah dan Kusumaputra (1976), dalam Atmosoedarjo, dkk (2000), meneliti pengaruh pemberian pakan terhadap ulat kecil dan ulat besar, dengan daun dari jenis berbeda (Morus. alba, M. cathayana dan M. multicaulis) terhadap rendemen pemeliharaan dan mutu kokon. M. alba mempunyai kadar protein tertinggi pada daun muda (18,66%), maupun daun tua (17,59%), disbanding dengan jenis lain, sedangkan kandungan karbohidrat tertinggi ada pada M. cathayana yaitu (56,18%) pada daun muda dan ( 63,14%) ada pada daun tua. Pemberian pakan M. alba pada ulat kecil dan M. multicaulis pada ulat besar, memberikan rendemen pemeliharaan tertinggi dan mutu kokon yang cukup baik.
Saranga dkk (1992), dalam Atmosoedarjo, dkk (2000), melakukan percobaan tentang pengaruh jenis pakan kepada produksi kokon di Laboraturium pemeliharaan ulat sutera, Balai Persuteraan Alam Bili-bili, Sulawesi Selatan.
Ke empat jenis daun yang diberikan diantaranya : M. multicaulis, M. alba, M. cathayana dan M. nigra, pada ke dua ras percobaan, yaitu F1 dari ras Jepang dan ras Bili-bili (BN) dan ras China dan Bili-bili (BC), tidak berpengaruh nyata terhadap mortalitas larva, bobot kokon, maupun prosentase kulit kokon, namun ternyata M. multicaulis dan M. alba mempengaruhi mutu serat, yaitu menghasilkan serat kokon yang panjangnya masing-masing 1.172,33 m dan 1.125,30 m.
Menurut Sumardjito dan Suhartadi (1987), dalam Atmosoedarjo, dkk (2000). Dalam penelitian dipakatto, Bili-bili, Sulawesi Selatan, murbei BNK Rajawali, M. nigra dan M. australis mempunyai sifat-sipat unggul dalam hal daya tahan tumbuh stek, perkembangan akar dan pertumbuhan stek, akan tetapi produksi daun M. alba, M. Cathayana dan M. multicaulis ternyata jauh lebih baik dari jenis-jenis lain. (BNK: B = Bili-bili; N = Nigra; K = kokuso).



2.2 Landasan Teori
2.2.1 Murbei (Morus sp)
a) Ciri Morfologi
Tumbuhan murbei termasuk kedalam famili Moraceae, Ordo Urticales, Kelas Dicociledonae, Subdivisi Agiospermae dan Divisi Spermatophyta. Tumbuhan murbei berhabitus perdu atau pohon, dengan tinggi 6-25 m. Morus macraura dapat mencapai tinggi 35 m, batang: hijau atau kelabu atau kecoklatan. Cabang-cabang tegak, mendatar atau menggantung, cabang banyak, batang bulat, warna hijau atau kelabu atau cokelat atau ungu, keluar dari ketiak daun. Daun-daun tunggal, letak daun pada cabang sepiral; berbentuk oval atau bulat atau bercangap atau berlekuk atau tidak, ujung meruncing atau membulat, tepi daun berigi atau beringgit; permukaan daun kasar atau agak kasar; permukaan daun mengkilap; tulang daun sebelah bawah tampak jelas. Bunga-bunga berumah satu (monoecious) atau dua (dioecious), mempunyai bunga jantan dan betina yang keduanya tersususn dalam untaian dan pada umumnya terpisah satu sama lain (unisexsual). Buah-buahan majemuk, waktun muda hijau dan setelah masak berwarna merah sampai ungu kehitaman. Anonim (2001).
Morus Multicaulis dikenal dengan nama “murbei multi” atau “murbei besar”. Berupa perdu, yang cepat besar dan tinggi. Warna batabang cokelat atau coklat kehijau-hijauan. Daunnya sangat besar, membulat dan permukaannya bergelombang, sedangkan pinggiran daun bergerigi.
Cabang tidak banyak paling antara 2-4 cabang saja. Setiap cabang cepat memanjang dan membesar. Buahnya berwarna merah, yang keluar pada waktu stek baru ditanam, atau batangnya baru dipangkas. Buahnya jarang didapat pada cabang atas.
Sekarang banyak ditanam untuk makanan ulat, karena bentuk daunnya yang besar dan kecepatan tumbuhnya. Tetapi sangat disayangkan, bahwa pucuk-pucuknya mudah dan cepat sekali diserang hama serangga atau penyakit bakteri, virus atau jamur, sehingga bentuknya menggulung atau rusak. Atmosoedarjo, dkk (2000).
Menurut Katsumata (1972), dalam Atmosoedarjo, dkk (2000). di jawa ada beberapa jenis murbei yang daunya baik untuk digunakan sebagai pakan ulat sutera, yaitu Morus. alba, M. nigra, M. cathayana, M. multicaulis dan M. australis. Sedang di Sulawesi Selatan murbei yang ditanam petani sutera pada umumnya jenis-jenis M. nigra dan M. australis.

Tabel. Hasil analisis proksimat berbagai jenis daun murbei
Jenis daun Persentase bahan kering
Kadar air Bahan kering Protein Kasar Lemak kasar Serat kasar BETN Abu Energi (kal/g)
Morus multicaulis
- Daun muda 74,64 25,36 21,99 3,70 12,56 51,85 9,90 4519
- Daun tua 75,13 24,87 19,66 5,09 16,86 44,32 14,05 3541
Morus kanva
- Daun muda 78,21 21,79 20,87 4,20 8,22 57,20 9,50 4663
- Daun tua 71,47 28,53 17,99 5,81 13,61 49,38 13,20 4153
Morus cathayana
- Daun muda 73,69 26,31 19,09 3,71 8,45 59,53 9,22 4406
- Daun tua 70,78 29,22 16,39 5,16 16,80 47,61 14,03 4246
Morus alba
- Daun muda 68,89 30,11 22,59 4,10 10,21 53,26 9,83 4502
- Daun tua 69,50 30,50 22,10 6,09 10,57 46,81 14,43 4282
Morus nigra
- Daun muda 71,19 28,81 22,83 4,24 11,68 51,04 10,22 4373
- Daun tua 67,62 32,38 15,71 6,15 11,69 51,73 14,71 4378
Dianalisis di Laboratorium Balai Penelitian Ternak, Balitbangnak, Deptan
















Tabel Kandungan vitamin 1) dan mineral 2) berbagai jenis daun murbei
Jenis daun Persentase bahan kering
Vitamin A ( mg %) Vitamin C
(mg %) Calcium
(%) Phosphor
(%)
Morus multicaulis
- Daun muda 2.480,92 12,90 1,55 0,46
- Daun tua 2.799,06 9,32 3,07 0,28
Morus kanva
- Daun muda 5.262,70 13,79 1,38 0,37
- Daun tua 4.598,49 14,62 2,24 0,25
Morus cathayana
- Daun muda 5.671,31 11,70 1,53 0,36
- Daun tua 5.736,85 13,37 2,99 0,33
Morus alba
- Daun muda 4.441,29 12,31 1,71 0,36
- Daun tua 3.705,23 12,73 2,98 0,31
Morus nigra
- Daun muda 4.477,56 14,70 1,88 0,36
- Daun tua 3.541,31 14,16 3,23 0,24
1) Dianalisis di Lab. Balitbang Gizi, Depkes
2) Dianalisis di Lab. Balitbangnak, Deptan

Tabel Komposisi 15 macam asam amino berbagai daun murbei (persentase dari bahan kering)
Jenis asam amino M. multicaulis M. kanva M. cathayana M. alba M. nigra
Muda Tua Muda Tua Muda Tua Muda Tua Muda Tua

Aspartat 0,37 0,20 0,43 0,39 0,41 0,59 0,45 0,47 0,59 0,38
Threonin 0,29 0,18 0,21 0,23 0,32 0,32 0,36 0,34 0,30 0,24
Serin 0,18 0,12 0,18 0,16 0,14 0,23 0,16 0,21 0,02 0,21
Glutamat 0,73 0,54 0,67 0,60 0,58 0,76 0,64 0,75 0,81 0,52
Glisin 0,18 0,12 0,15 0,17 0,17 0,25 0,21 0,24 0,25 0,20
Alanin 0,36 0,33 0,32 0,26 0,28 0,35 0,31 0,32 0,38 0,26
Valin 0,40 0,34 0,16 0,18 0,22 0,31 0,29 0,28 0,34 0,20
Methionin 0,07 0,06 0,05 0,04 0,05 0,07 0,06 0,05 0,06 0,04
Isoleusin 0,15 0,10 0,11 0,12 0,16 0,22 0,18 0,20 0,21 0,18
Leusin 0,39 0,21 0,30 0,28 0,30 0,41 0,34 0,43 0,48 0,35
Tirosin 0,20 0,28 0,17 0,18 0,18 0,24 0,21 0,23 0,24 0,19
Fenilalanin 0,26 0,23 0,20 0,19 0,20 0,28 0,28 0,23 0,31 0,22
Histidin 0,11 0,09 0,08 0,07 0,09 0,12 0,11 0,11 0,13 0,12
Lisin 0,31 0,28 0,25 0,21 0,24 0,27 0,35 0,32 0,32 0,31
Arginin 0,25 0,21 0,20 0,19 0,20 0,22 0,26 0,25 0,29 0,22
Dianalisis di Laboratorium BPIHP, Bogor.
b) Syarat Tumbuh
Tanaman murbei tidak menuntut persyaratan ketinggian tertentu, sebab ketinggian berapapun murbei bisa tumbuh. Tanaman murbei dapat tumbuh didaerah tropis dan subtropis. Beberapa tempat di Indonesia banyak ditemukan murbei tumbuh secara liar. Ulat sutera lebih cocok berkembang baik ditempat beriklim sejuk, sehingga murbei paling ideal ditanam dengan ketinggian berkisar 400-800 di atas permukaan laut. Nazarudin dan Nurcahyo (1992).
Tanaman murbei tumbuh baik antara musim hujan dan musim kemarau. Daerah yang mempunyai temperatur 20-30 0C sangat cocok untuk pertumbuhan murbei dan akan berhenti pada temperatur 40 0C. Setiap 10-15 hari membutuhkan sekitar 50 mm air. Lahan sebaiknya dapat dialiri air karena hal ini akan bermanfaat terutama dimusim kemarau. Murbei pada daerah curah hujan antara 2500-3000 mm/tahun akan mengatasi masalah dalam hal pengairan. Penyinaran matahari yang cukup akan menghasilkan tanaman yang sehat.
Tanah yang ditanami harus cukup mensuplai udara, air dan makanan bahkan dalam lapisan yang paling dalam dimana akar dapat menjangkau. Tanah sebaiknya memiliki pH 6,2-7, teksturnya gembur dan mempunyai porositas yang baik kemampuan menahan air sehingga menghasilkan produktivitas tinggi Anonim (2001).
2.2.2 Ulat Sutera (Bombyx mori L)
a) Ciri Morfologi dan Siklus Hidup
Ulat sutera adalah anggota Famili Bombicidae, Ordo Lopidoptera, Kelas Insekta (heksapoda) dan Phylum Arthropoda.
Ulat sutera termasuk serangga yang selama hidupnya mengalami metamorfosis sempurna (holometabola) yaitu dimulai dari telur, ulat (larva), kepongpong (pupa) dan ngengat (imago). Bombyx mori L. tergolong endopterigota yaitu serangga yang perkembangan sayapnya terjadi di dalam badan dan fase pradewasa berbeda dengan fase dewasa, baik dalam prilaku, makanan maupun bentuknya. Samsijah (1992), dalam Atmosoedarjo, dkk (2000).

Ngengat yang telah melakukan perkawinan akan menghasilkan telur berbentuk elips, panjang 1,2-1,5 mm, lebar 1,2 mm dan berat 0,5-0,7 mg.telur yang baru keluar berwarna kuning dan berangsur-angsur akan berubah menjadi warna abu-abu. Telur menetas menjadi larva setelah 9-10 hari. Larva yang baru menetas mempunyai banyak seta dipermukaan tubuhnya, warna tubuh umumnya hitam dan panjangnya sekitar 3 mm. Larva akan mengalami lima pergantian kulit dan akan berhenti makan selama 24 jam. Periode makan tersebut sering disebut instar. Ulat yang berumur 1-4 hari tegolong ulat instar I, setelah 2 hari panjang tubuh ulat akan menjadi 7 mm, permukaan tubuh mengkilat dan seta semakin kurang jelas. Setelah hari ke-3 ulat akan mengalami eksdisis (pergantian kulit) dan berhenti makan selama 24 jam. Ulat instar II (umur 5-8 hari), akan mempunyai panjang sekitar 8,0 mm dan berat 6,0 mg. Selanjutnya, ulat memasuki instar III (9-13 hari), panjang tubuh 15,0 mm, berat 35,0 mg dan warna ulat berangsur-angsur menjadi putih. Ulat instar IV (umur 13-17 hari) memiliki panjang 670-1062 mm dan berat 35,21 mg. Pada umur 19-26 hari (instar V) mempunyai panjang 70 mm dan berat maksimum 3527-4627 mg, setelah instar V akan berhenti makan dan warna kulit berubah menjadi transparan dan akan membentuk kokon. Kokon akan berubah menjadi pupa dan berkembang menjadi kupu (ngengat) dan akan menebus kokon dengan mengeluarkan zat perusak kokon.
b) Budidaya ulat Sutera
Pertumbuhan larva ulat sutera membutuhkan keadaan lingkungan tertentu. Makin tinggi tingkat perkembangan ulat, maka diperlukan temperatur dan kelembaban yang makin rendah. Ulat instar I tumbuh pada temperatur 20-28 0C dan kelembaban 85-90 %, ulat instar II tumbuh pada temperatur 26-28 0C dan kelembaban 85 %, ulat instar III tumbuh pada temperatur 24-26 0C dan kelembaban 75 %, ulat instar IV tumbuh pada temperatur 23-24 0C dan kelembaban 70 % dan ulat instar V tumbuh pada temperatur 22-23 0C dan kelembaban 70 %.
Kokon bibit akan berkembang baik jika temperatur terpelihara 23-24 0C dengan kelembaban 70-75 % diberi cahaya yang sangat gelap. Pupa tumbuh baik pada temperatur 23-25 0C dan kelembaban 70-80 %. Bila temperatur dan kelembaban rendah maka ulat tidak akan hidup dengan baik. Anonim (1984).
Pengaturan cahaya ruang pemeriharaan sangat penting karena ulat sutera tidak menyukai keadaan cahaya yang terlalu terang maupun terlalu gelap, tetapi lebih suka pada keadaan cahaya lemah (15-30 lux). Selain itu, untuk pertumbuhan ulat diperlukan udara yang bersih dan segar. Katsumata (1964), dalam Atmosoedarjo, dkk (2000).
Pemeliharaan ulat sutera agar berhasil perlu memerlukan beberapa faktor yaitu faktor makanan, lingkungan, ruangan, alat-alat pemeliharaan, jenis ulat dan pengetahuan tentang cara pemeliharaan yang baik dan benar-benar dikuasai.
2.2.3 Kokon
Ulat-ulat sutera yang telah mengalami pergantian kulit empat kali dan makan daun murbei cukup, maka kelenjar suteranya tumbuh menjadi besar dan isibadannya sebagian besar tediri atas kelenjar tersebut. Karena itu, badan ulat sutera tembus cahaya dan dari mulutnya mulai mengeluarkan serat sutera. Ulat sutera yang demikian dikatakan sebagai ulat sutera yang siap mengokon. Katsumata (1964), dalam Atmosoedarjo, dkk (2000).
Kokon ulat sutera merupakan pelindung pupa yanmg terbuat dari serat-serat sutera yang dijalin oleh larva bila hendak membentuk kepongpong atau pupa. Agar pengokonan berjalan dengan baik, ulat perlu disediakan tempat khusus sebagai tempat menempelnya kokon.
2.3 Hipotesis
H0 : Varietas murbei (Morus sp) sebagai pakan ulat sutera (Bombyx mori L) tidak berpengaruh nyata terhadap produksi kokon.
H1 : Varietas murbei (Morus sp) sebagai pakan ulat sutera (Bombyx mori L) berpengaruh nyata terhadap produksi kokon.



III. METODE PENELITIAN
3.1 Rancangan Penelitian
Rancangan penelitian yang akan digunakan ialah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 3 (tiga) perlakuan. Masing-masing perlakuan diulang 6 (enam) kali ulangan dan setiap unit percobaan terdiri dari 100 ekor ulat sutera Bombyx mori L. Sebagai perlakuan adalah pakan ulat sutera yaitu daun murbei yang terdiri dari:
a) Kontrol (Campuran) (P0)
b) M. multicaulis (P1)
c) M. cathayana (P2)
Teknis analisais Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan model matematika yaitu sebagai berikut:
ỵij = µ + αi + εij
ỵij = Pengaruh perlakuan ke i ulangan ke j
µ = Rataan umum
αi = Pengaruh perlakuan ke i
εij = Galat percoabaan pada perlakuan i dengan ulangan ke j
3.1.1 Parameter yang diamati
Parameter yang akan diamati dalam melakukan penelitian ini ialah sebagai berikut:
a) Persentase kematian ulat kecil (instar I - III) adalah jumlah ulat yang mati dibagi jumlah ulat instar I – III kali 100%.
b) Persentase kematian ulat besar (instar IV - V) adalah jumlah ulat yang mati dibagi jumlah ulat instar IV - V kali 100%.
c) Persentase rendemen pemeliharaan adalah jumlah hasil kokon dibagi jumlah ulat yang dipelihara dari awal instar IV kali 100%.
d) Berat kokon basah adalah berat kokon seluruhnya termasuk kulit kokon dan pupanya.
e) Berat kulit kokon adalah berat kokon basah yang telah dikeluarkan pupanya.
f) Persentase berat kulit kokon adalah berat kulit kokon dibagi berat kokon basah kali 100%.
3.2 Alat dan Bahan
Alat dan bahan yang akan digunakan dalam penelitian ini diantaranya :
a) Alat
1. Ruang pemeliharaan ulat kecil 11. Jaring
2. Ruang pemeliharan ulat besar 12. Ember
3. Alat pengokonan 13. Baskom
4. Kotak penetasan 14. Saringan
5. Rak inkubasi 15. Tatanan
6. Sasag 16. Pisau
7. Rak ulat kecil 17. Sapu lidi
8. Rak ulat besar 18. Lap
9. Kertas parafin 19. Sandal
10. Sumpit 20. Termometer
b) Bahan
1. Bibit telur ulat sutera
2. Kapur
3. Kaporit
4. Pakan ( Daun murbei).
3.3 Lokasi Penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan di Kp. Sukadana Rt. 05 Rw. 05 Desa. Wangunjaya Kecamatan. Banjarwangi Kabupaten. Garut (Jawa Barat), pada bulan Februari sampai dengan Maret 2010.



3.4 Pelaksanaan Penelitian
3.4.1 Persiapan Pemeliharaan
Salah satu pekerjaan yang paling penting dalam mempersiapkan pemeliharaan ulat sutera adalah desinfeksi. Persiapan selanjutnya yaitu penyedian telur atau bibit ulat sutera, persiapan daun murbei sebagai pakan ulat sutera, persiapan sarana dan prasarana, tenaga kerja dan bahan pendukung lainnya.
3.4.2 Penetasan Telur
Penetasan telur ulat sutera atau inkubasi dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:
a) Ruang inkubasi disterilkan dengan menyemprotkan formalin 5%
b) Telur ditetaskan dalam ruangan inkubasi yang gelap selama 3 hari
c) Telur diberikan penerangan dengan sinar matahari selama 6 jam
d) Penetasan dilakukan dalam kotak penetasan
e) Jumlah populasi telur 25.000 butir per boks.
3.4.3 Pemeliharaan Ulat Kecil
Pemeliharaan ulat kecil ialah pemeliaharan ulat mulai dari instar I sampai dengan intar III dengan langkah-langkah sebagai berikut:
a) Rumah Ulat Kecil disemprot formalin 5% 2 minggu sebelum pemeliharaan
b) Ulat instar I diberi makan pertama jika telah menetas seluruhnya
c) Ulat kecil dipindahkan pada kotak pemeliharaan yang lebih besar dengan alas kertas parafin
d) Pemberian pakan dilakukan setiap saat pada instar I, II dan III
e) Daun murbei untuk pakan diiris tipis-tipis dan dirajang
f) Daun untuk pakan ulat kecil adalah daun ke 4-7(instar I); daun ke 7-9 (instar II) dan daun ke 9 -11 (instar III)
g) Desinfeksi pada tubuh ulat dilakukan setiap pergantian kulit
h) Pada saat ulat tidur pada perpindahan instar dilakukan sanitasi ruangan
i) Pemindahan ulat dilakukan pada saat ulat tidur.

3.4.4 Pemeliharaan Ulat Besar
a) Rumah Ulat Besar disterilkan dengan menyemprotkan formalin 5% pada seluruh ruangan berikut dindingnya 2 minggu sebelum pemeliharaan
b) Ulat besar dimulai dari instar IV
c) Mulai instar IV pakan diberikan daun murbei secara utuh.
d) Pemberian pakan tidak dilakukan diberikan setiap saat jika tampak ulat lapar.
e) Pakan untuk ulat instar ke IV dan V adalah seluruh daun, kecuali pucuk (daun ke 1-3)
f) Pemberian pakan lebih banyak dilakukan malam hari.
g) Desinfeksi tubuh ulat dilakukan pada saat pergantian kulit
h) Jumlah pakan yang diberikan setiap saat meningkat sesuai dengan perkembangan tubuh ulat.
i) Pada instar V pakan yang diberikan dapat daun utuh atau dengan rantingnya.
3.4.5 Pengokonan
a) Ulat mengokon pada hari ke-8 instar V
b) Pengokonan dilakukan pada alat pengokonan (seriframe)
c) Ciri-ciri ulat mau mengokon adalah tubuh ulat sudah transparan dan tidak makan lagi
d) Ulat mengokon ada yang naik sendiri pada alat pengokonan (seriframe), tetapi ada pula yang perlu dibantu diletakan pada seriframe
e) Pengokonan terjadi selama 3 hari.
3.4.6 Panen Kokon
a) Panen kokon dilakukan setelah 5 hari mulai mengokon
b) Kokon terasa keras jika dipegang
c) Kokon dikeluarkan dari seriframe dengan cara dikorek dengan bambu atau kayu tipis.



3.5 Analisis Data
Data yang telah didapatkan dari hasil pengujian, kemudiaan dianalisis menggunakan uji F (ANOVA) dan jika antar perlakuaan terjadi perbedaan yang signifikan maka dilanjutkan dengan uji BNT.

Denah satuan percobaan (lay out percobaan)
No Bilangan acak Rengking Perlakuan
1 0.749 6 P0 1 2 3 4 5 6
2 0.563 10 P1 12 11 10 9 8 7
3 0.861 8 P1 13 14 15 16 17 18
4 0.962 5 P0
5 0.322 14 P2 P0 P1 P1 P0 P2 P1
6 0.005 7 P1 P0 P2 P0 P2 P2 P1
7 0.351 9 P1 P2 P0 P1 P0 P1 P2
8 0.265 17 P2
9 0.362 15 P2
10 0.051 2 P0
11 0.980 18 P2
12 0.960 1 P0
13 0.994 16 P2
14 0.326 3 P0
15 0.431 12 P1
16 0.758 4 P0
17 0.382 11 P1
18 0.677 13 P2











IV. JADWAL PELAKSANAAN
No Jenis Kegiatan Bulan
Desember Januari Februari Maret
1 Penyusunan Proposal
2 Seminar Proposal
3 Pelaksanaan TA
4 Penulisan Laporan TA
5 Seminar Laporan TA











DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 1984. Teknik Pemeliharaan Ulat sutera. Bandung: Balai Informasi Pertanian.
Anonim. 2001. Budidaya Murbei dan Budidaya Ulat Sutera. Candiroto: PPUS Candiroto.
Atmosoedarjo, H. Soekiman, dkk. 2000. Sutera Alam Indonesi. Jakarta : Yayasan sarana Wana jaya.
Nazarudin, Nurcahyo. 1992. Budidaya Ulat Sutera. Jakarta: Penebar Swadaya.
Samsijah, Andadari. 1992. Petunjuk Teknis Budidaya Murbei (Morus sp.). Bogor: Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Bogor.

Jumat, 23 Oktober 2009

BUDIDAYA TANAMAN MURBEI



BUDIDAYA TANAMAN MURBEI

1). Jenis Tanaman Murbei
Terdapat berbagai jenis tanaman murbei (Morus sp) di dunia, namun yang dianggap unggul di Indonesia adalah sebagai berikut : untuk iklim/daerah panas yaitu Morus cathayana, Morus khunpai, dan Morus lembang,untuk iklim/daerah sedang yaitu Morus kanva, Morus kathayana dan Morusmulticaulis; sedangkan untuk iklim/daerah dingin adalah Morus mufticaulis dan Morus kanva.

2). Pemilihan Areal Tanam
Pemilihan areal untuk penanaman murbei harus memperhatikan faktor iklim suhu 21 - 300C, kelembaban rata-rata 60%, Transpirasi murbei sangat tinggi maka dibutuhkan curah hujan rata-rata minimal 1500 mm per tahun. Ketinggian tempat/tanah 700 m dpl, Jenis tanah adalah Latosol vulkanis/lnseptsol struktur lempung berpasir pH sekitar 6,5. Lokasi pemeliharaan ulat dekat dengan kebun murbei kemiringan 15 - 30% dan faktor lingkungan artinya tanaman murbei jauh dari populasi dan bau racun obat-obatan pertanian.

3). Pengolahan Tanah
Sistem Cemplongan yaitu lubang tanaman di mana tanah hanya diolah pada bagian yang akan ditanami saja. Kedalaman lubang antara 30 - 40 cm dengan lebar 30 cm. Sistem larikan yaitu pembuatan lubang dengan membuat guludan-guludan sesuai baris tanaman.

4). Pengadaan Stek Tanaman
Pemilihan stek sebaiknya diambil dari tanaman yang berumur di atas 1 tahun dari cabang yang sehat, lurus dari cabang berumur 4 - 6 butan setelah dipangkas. Diameter cabang kurang lebih 1 cm.
Pengangkutan stek yang diambil dari lokasi yang jauh perlu mendapat perhatian, yang harus dijaga adalah agar stek tadi tidak kering selama perjalanan. Salah satu cara dengan jalan ditutup dengan karung basah. Pengangkutan stek sebaiknya dilakukan pada pagi atau sore hari agar tidak kering dalam perjalanan.
Penyimpanan stek yang tidak langsung ditanam di lapangan sebaiknya di tempat yang dingin dan lembab serta tidak terkena cahaya matahari langsung. Pemotongan stek. Bahan stek dipotong sepanjang 20 - 2 cm dengan alat yang tajam agar tidak pecah.

5). Persiapan Bedengan Atau Media Dalam Polybag
Bedengan dibuat dengan ukuran 100 - 125 cm, dicangkul dengan kedalaman 30 cm. Tanah yang telah gembur diberi pupuk kandang sekitar 2 kg dan 1 ons kapur untuk setiap M2, selanjutnya diberi Furadan 25 gram dan diberi Hustatian 200 cc dalam 10 liter air.
Polybag yang digunakan berukuran lebar 15 cm dan panjang 25 - 3 cm, diisi dengan tanah yang gembur dicampur dengan pupuk kandang dan sedikit kapur.

6). Persiapan Lahan
Setelah selama 3 bulan dalam persemaian atau polybag, maka bibit tanaman sudah slap tanam di lapangan. Penanaman di lapangan dapat dilakukan dengan tiga sistem yaitu : a. sistem lubang, b. sistem rorak dan c. sistem pengolahan tanah keseluruhan

7). Penanaman Tanaman Murbei
Waktu tanam yang tepat adalah awal atau pertengahan musim hujan kecuali pada daerah yang terdapat fasilitas irigasi. Penanaman stek murbei seperti halnya tanaman lain, stek ditancapkan miring 30 pada tempat yang sudah ditentukan sesuai dengan jarak tanam. Bagian yang ditancapkan adalah 2/3 dari panjang stek. Jarak tanam secara monokultur adalah 1,5 x 0,75 m ; 1,2 x 0,4m. Jika secara tumpangsari, jarak tanamnya 1 x 0,75 m ; 2 x 0,6 m ; 3 x 0,5 m (tergantung jenis tanaman tumpang sari).

MURBEI


Murbei
(Morus alba L.)
Sinonim :
= M. australis, Poir. = M. atropurpurea, Roxb. = M. constantinopalita, Poir. = M. indica, Linn. = M. rubra, Lour.
Familia :
Moraceae
Uraian :
Murbei berasal dari Cina, tumbuh baik pada ketinggian lebih dari 100 m dpl. dan memerlukan cukup sinar matahari. Tumbuhan yang sudah dibudidayakan ini menyukai daerah-daerah yang cukup basa seperti di lereng gunung, tetapi pada tanah yang berdrainase baik. Kadang ditemukan tumbuh liar. Pohon, tinggi sekitar 9 m, percabangan banyak, cabang muda berambut halus. Daun tunggal, letak berseling, bertangkai yang panjangnya 4 cm. Helai daun bulat telur sampai berbentuk jantung, ujung runcing, pangkal tumpul, tepi bergerigi, pertulangan menyirip agak menonjol, permukaan atas dan bawah kasar, panjang 2,5 - 20 cm, lebar 1,5 - 12 cm, warnanya hijau. Bunga majemuk bentuk tandan, keluar dari ketiak daun, mahkota bentuk taju, warnanya putih. Dalam satu pohon terdapat bunga jantan, bunga betina dan bunga sempurna yang terpisah. Murbei berbunga sepanjang tabun. Buahnya banyak berupa buah buni, berair dan rasanya enak. Buah muda warnanya hijau, setelah masak menjadi hitam. Biji kecil, warna hitam. Tumbuhan ini dibudidayakan karena daunnya digunakan unluk makanan ulat sutera. Daun muda enak di sayur dan berkhasiat sebagai pembersih darah bagi orang yang sering bisulan. Perbanyakan dengan setek dan okulasi.

Nama Lokal :
Besaran (Indonesia). murbai, besaran (Jawa).; Kerta, kitau (Sumatera).; Sangye (China), may mon, dau tam (Vietnam), morus leaf,; morus bark,morus fruit, mulberry leaf, mulberry bark,; mulberry twigs, white mulberry, mulberry (Inggris).;
Penyakit Yang Dapat Diobati :
Demam, flu, malaria, batuk, rematik, darah tinggi (hipertensi), ; Kencing manis (diabetes melitus), kaki gajah (elephantiasis), ; Radang mata merah (conjunctivitis acute), memperbanyak ASI,; Keringat malam, muntah darah, batuk darah, batuk berdahak,; Kolesterol tinggi (hiperkolesterolemia), tidak datang haid, ; Gangguan saluran cerna, sesan napas (asma), cacingan,; Muka bengkak (edema), sukar kencing (disuria), neurastenia,; Jantung berdebar (palpitasi), rasa haus dan mulut kering,; Sukar tidur (insomnia), telinga berdenging (tinnitus), sembelit,; Tuli, vertigo, hepatitis, kurang darah (anemia), rambut beruban,; Sakit kepala, s.tenggorokan, s.gigi, s.kulit, s.pinggang (lumbago),; Menyuburkan pertumbuhan rambut.;

Pemanfaatan :
BAGIAN YANG DIGUNAKAN :
Daun, ranting, buah, dan kulit akar dapat digunakan sebagai obat. Untuk penyimpanan, buah dikukus baru dijemur, ranting dipotong tipis lalu dijemur, dan kulit akar dicuci bersih lalu dipotong-potong tipis kemudian dijemur sampai kering.

INDIKSI :
Daun (Sang ye) berkhasiat untuk:
- demam karena flu, malaria,
- batuk,
- sakit kepala, sakit tenggorok, sakit gigi, rematik,
- darah tinggi (hipertensi),
- kencing manis (diabetes mellitus),
- kaki gajah (elephantiasis tungkai bawah),
- sakit kulit bisul,
- radang mata merah (conjunctivitis acute),
- memperbanyak air susu ibu (ASI),
- keringat malwn,
- muntah darah dan batuk darah akibat darah panas,
- kolesterol tinggi (hiperkolesierolemia), dan
- gangguan pada saluran cerna.

Kulit akar (Sang bai pi) berkhasiat untuk:
- sakit gigi,
- tidak datang haid,
- batuk berdahak, sesak napas (asma),
- muka bengkak (ederna),
- kencing yang nyeri dan susah (disuria), dan
- cacingan.

Buah (Sang shen) berkhasiat untuk:
- tekanan darah tinggi (hipertensi),
- jantung berdebar (palpitasi),
- kencing manis (diabetes mellitus), rasa haus dan mulut kering,
- sukar tidur (insomnia),
- batuk berdahak,
- pendengaran berkurang dan penglihatan kabur,
- telinga berdenging (tinnitus), tuli, tujuh keliling (vertigo),
- hepatitis kronis,
- sembelit pada orang tua,
- kurang darah (anemia), neurastenia,
- sakit otot dan persendian, sakit tenggorok, serta
- rambut beruban.sebelum waktunya.

Ranting (Sang zhi) berkhasiat untuk:
- rematik,
- tangan dan kaki terasa baal dan sakit,
- sakit pinggang (lumbago),
- keram pada tangan dan kaki,
- tekanan darah tinggi, serta menyuburkan pertumbuhan rambut.

Cara Pemakaian
Untuk diminurn, pilih salah satu bagian yang disukai. Bila kulit akar Untuk pemakaian luar, daun segar dilumatkan atau digiling halus, 10 - 15 g; ranting 15 - 30 g; sedang daun dosisnya 5 - 10 g sekali rebus, dapat juga menggunakan dosis maksimal 20 - 40 g. Untuk buah dosisnya 10 - 15 g, direbus, alu diminum. Untuk pemakaian luar, daun segar dilumatkan atau digiling halus, kemudian diturapkan ke tempat yang sakit seperti luka, digigit ular, dan serangga, atau untuk merangsang pertumbuhan rambut.

CONTOH PEMAKAIAN :
1. Tekanan darah tinggi, kaki bengkak :
Daun murbei segar sebanyak 15 g dicuci bersih kemudian direbus
dengan 2 gelas air selama 15 menit. Setelah dingin disaring lalu
dibagi untuk 2 kali minum, pagi dan sore.
2. Memperbanyak kcluamya air susu ibu (ASI) :
Daun murbei muda dimasak sebagai sayur, lalu dimakan bersama
nasi.
3. Kencing nanah Kulit :
Akar murbei, adas pulosari, dan kayu sandel (sandelhout) direbus.
4. Bisul, radang kulit :
Daun murbei segar sebanyak 1 genggam dicuci lalu direbus dengan
2 gelas air sampai tersisa 1 gelas. Setelah dingin disaring, minum
sekaligus. Rebusan daun ini berguna untuk membersihkan darah
sehingga dapat diminum secara teratur.
5. Luka, borok :
Daun murbei segar setelah dicuci bersih lalu dioleskan minyak
kelapa. Layukan di atas api lalu diremas-remas dengan jari tangan
sehingga menjadi lemas. Daun tadi kemudian dipakai untuk menutup
luka. Namun sebelumnya, luka harus dicuci dahulu dengan rebusan
akar tren guli.
6. Digigit ular
Daun murbei segar sebanyak 20 g dicuci lalu digiling halus.
Tambahkan 1/2 cangkir air masak, lalu disaring dan diperas. Air
yang terkumpul lalu diminum sekaligus.
7. Berkeringat malam
Daun murbei kering yang dijadikan serbuk sebanyak 6 - 9 g, direbus
dengan air beras sampai mendidih. Setelah dingin lalu diminum.
8. Rematik, tangan dan kaki baal dan sakit :
Ranting murbei kering sebanyak 15 g direbus dengan 3 gelas air
bersih sampai tersisa 1 gelas. Setelah dingin disaring, minum. Sehari
2 kali, masing-masing 1/2 gelas.
9. Hepatitis kronis, kurang darah, tekanan darah tinggi :
Buah murbei segar sebanyak 10 g ditambah air masak 1 gelas, lalu

Komposisi :
SIFAT KIMIAWI DAN EFEK FARMAKOLOGIS : Daun bersifat pahit, manis, dingin, masuk meridian paru dan hati. Buah bersifat manis, dingin, masuk meridian jantung, hati, dan ginjal. Kulit akar bersifat manis, sejuk, masuk meridian paru. Ranting bersifat pahit, netral, masuk meridian hati. KANDUNGAN KIMIA : Daun murbei mengandung ecdysterone, inokosterone, lupeol, beta-sitosterol, rutin, moracetin, isoquersetin, scopoletin, scopolin, alfa-, beta-hexenal, cis-beta-hexenol, cis-lamda-hexenol, benzaidehide, eugenol, linalool, benzyl alkohol, butylamine, aceto'ne, trigonelline, choline, adenin, asam amino, copper, zinc, vitamin (A, B1, C. dan karoten), asam klorogenik, asam fumarat, asam folat, asam formyltetrahydrofolik, dan mioinositol. Juga mengandung phytoestrogens. Bagian ranting murbei mengandung tanin dan vitamin A. B uahnya mengandung cyanidin, isoquercetin, sakarida, asam linoleat, asam stearat, asam oleat, dan vitamin (karoten, B1, B2 dan C). Kulit batang mengandung (1) triterpenoids: alfa-,beta-amyrin, sitosterol, sitosterol-alfa-glucoside. (2) Flavonoids: morusin, cyclomorusin, kuwanone A,B,C, oxydihydromorusin. (3) Coumarins: umbelliferone, dan scopoletin. Kulit akar mengandung derivat flavone mulberrin, mulberrochromene, cyclomulberrin, cyclomulberrochromene, morussin, dan mulberrofuran A. Juga mengandung betulinic acid, scopoletin, alfa-amyrin, beta-amyrin, undecaprenol, dan dodecaprenol. Biji: urease. Efek Farmakologis dan Hasil Penelitian : Eedysterone berkhasiat hipoglikemik.

SUTERA



Sutra atau sutera merupakan serat protein alami yang dapat ditenun menjadi tekstil. Jenis sutra yang paling umum adalah sutra dari kepompong yang dihasilkan larva ulat sutra murbei (Bombyx mori) yang diternak (peternakan ulat itu disebut serikultur). Sutra bertekstur mulus, lembut, namun tidak licin. Rupa berkilauan yang menjadi daya tarik sutra berasal dari struktur seperti prisma segitiga dalam serat tersebut yang membolehkan kain sutra membiaskan cahaya pada pelbagai sudut.
"Sutra liar" dihasilkan oleh ulat selain ulat sutra murbei dan dapat pula diolah. Pelbagai sutra liar dikenali dan digunakan di Cina, Asia Selatan, dan Eropa sejak zaman silam, namun skala produksinya selalu jauh lebih kecil daripada sutra ternakan. Sutra liar berbeda dari sutra ternakan dari segi warna dan tekstur, dan kepompong liar yang dikumpulkan biasanya sudah dirusak oleh ngengat yang keluar sebelum kepompong tersebut diambil, sehingga benang sutra yang membentuk kepompong itu sudah terputus menjadi pendek. Ulat sutra ternakan dibunuh dengan dicelup ke dalam air mendidih sebelum keluarnya ngengat dewasa, atau dicucuk dengan jarum, sehingga seluruh kepompong dapat diurai menjadi sehelai benang yang tak terputus. Ini membolehkan sutra ditenun menjadi kain yang lebih kuat. Sutra liar biasanya juga lebih sukar dicelup warna daripada sutra ternakan.
Sutra juga dihasilkan oleh beberapa jenis serangga lain, namun hanya jenis sutra dari ulat sutra yang digunakan untuk pembuatan tekstil. Pernah juga dijalankan kajian terhadap sutra-sutra lain yang menampakkan perbedaan dari aspek molekul. Sutra dihasilkan terutama oleh larva serangga yang bermetamorfosis lengkap, tetapi juga dihasilkan oleh beberapa serangga dewasa seperti Embioptera. Produksi sutra juga kerap dijumpai khususnya pada serangga ordo hymenoptera (lebah, tabuhan, dan semut), dan kadang kala digunakan untuk membuat sarang. Jenis-jenis arthropoda yang lain juga menghasilkan sutra, terutama arachnida seperti laba-laba.

Ngenget Sutera


Ngengat sutera atau sutra (Bombyx mori: "ulat murbei") adalah ngengat yang memiliki nilai ekonomi tinggi sebagai penghasil serat/benang sutra. Makanan ulat sutra hanyalah daun murbei (Morus alba). Ia berasal dari utara Tiongkok.
Telur ngengat sutra membutuhkan waktu sekitar 10 hari untuk menetas. Ulatnya membentuk kepompong sutera mentah, yang setelah dipintal bisa menghasilkan benang sutra sepanjang 300 hingga 900 meter per kepompong. Seratnya berdiameter sekitar 10 mikrometer.
Sebagaimana umumnya larva/ulat, ulat sutra sangat rakus; makan sepanjang siang dan malam sehingga tumbuh dengan cepat. Apabila warna kepalanya sudah menjadi semakin gelap, ulat sutra akan segera berganti kulit/cangkang. Dalam hidupnya, ulat sutra mengalami empat kali ganti kulit, hingga berwarna kekuningan dan lebih ketat, yang menjadi tanda akan segera membungkus diri dengan kepompong.
Sebelum ulat sutra menjadi matang dan keluar dari kepompongnya (kepompong digigiti hingga rusak dan tidak bernilai ekonomi), kepompong tersebut kemudian direbus untuk membunuh ulat sutra dan memudahkan penguraian seratnya. Adapun kupu-kupu dewasa yang dipelihara untuk bibit ulat sutra tidak bisa terbang.
Karena sejarahnya yang panjang dan nilai ekonominya yang tinggi, genom ulat sutra menjadi salah satu objek penelitian ilmiah.

Sejarah
Di Tiongkok kuna, terdapat legenda bahwa sutra yang didapati dari ulat sutra dilihat oleh Ratu Xi Ling-Shi (Hanzi:, pinyin: Léi Zǔ). Ia sedang bertamasya ketika ia melihat kepompong ulat sutra. Lalu digunakanlah jarinya untuk menyentuhnya, dan menakjubkan, selembar benang terkeluar! Apabila semakin banyak keluar dan membaluti disekeliling jarinya, dia perlahan-lahan merasa panas. Apabila sutera itu habis, dia melihat kepompong kecil. Dengan serta merta, sang ratu menyadari bahawa kepompong itu merupakan sumber sutra. Dia lalu bercerita kepada semua orang dan hal ini menjadi dikenal secara luas. Selain legenda ini, terdapat banyak legenda lain mengenai ulat sutra.

Manfaat medis
Ulat sutra yang digunakan untuk pengobatan tradisional China adalah "Bombyx batryticatus" atau "ulat sutra kaku" (Hanzi sederhana:僵蚕, tradisional: 僵蠶 pinyin: āngcán). Ia adalah larva kering 4–5th yang mati akibat penyakit muskadin putih disebabkan oleh jamur Beauveria bassiana, dimanfaatkan untuk mengobati masuk angin, mencairkan dahak dan meringankan kejang-kejang.

Makanan
Ulat sutra dikonsumsi di sejumlah kebudayaan. Di Korea, ulat sutra yang direbus sertadibumbui merupakan makanan ringan yang populer dan dikenal sebagai beondegi. Di China, sejumlah pedagang jalanan menjual ulat sutra yang dipanggang

Kamis, 22 Oktober 2009

PETUNJUK PRAKTIS BUDIDAYA ULAT SUTERA

I. PENDAHULUAN

Persuteraan Alam sudah cukup lama dikenal dan dibudidayakan oleh penduduk Indonesia. Mengingat sifat dan menfaatnya, maka Pemerintah melalui Departemen Kehutanan berupaya membina dan mengembangkan kegiatan persuteraan alam tersebut.

Budidaya ulat sutera dimaksudkan untuk menghasilkan benang sutera sebagai bahan baku pertekstilan. Untuk melaksanakan pemeliharaan ulat sutera, terlebih dahulu dilakukan penanaman murbei, yang merupakan satu-satunya makanan (pakan) ulat sutera, Bombyx mori L.

Manfaat kegiatan persuteraan alam sebagai berikut :

  • Mudah dilaksanakan dan memberikan hasil dalam waktu yang relatif singkat;
  • Memberikan tambahan pendapatan kepada masyarakat khusunya di pedesaan;
  • Memberikan lapangan kerja bagi masyarakat sekitarnya;
  • Mendukung kegiatan reboisasi dan penghijauan.

II. PERSIAPAN PEMELIHARAAN ULAT SUTERA

Sebelum kegiatan pemeliharaan ulat sutera dimulai, beberapa hal yang perlu diperhatikan seperti : tersedianya daun murbei sebagai pakan ulat sutera, ruang dan peralatan pemeliharaan serta pemesanan bibit/telur ulat sutera.

a. Penyediaan Daun Murbei :

  • Daun murbei untuk ulat kecil berumur pangkas $ 1 bulan dan untuk ulat besar berumur pangkas 2-3 bulan;
  • Tanaman murbei yang baru ditanam, dapat dipanen setelah berumur 9 bulan;
  • Untuk pemeliharaan 1 boks ulat sutera, dibutuhkan 400-500 kg daun murbei tanpa cabang atau 1.000 – 1.200 kg daun murbei dengan cabang;
  • Daun murbei jenis unggul yang baik untuk ulat sutera adalah : Morus alba, M. multicaulis, M. cathayana dan BNK-3 serta beberapa jenis lain yang sedang dalam pengujian oleh Balai Persuteraan Alam Sulawesi Selatan.

b. Ruangan Peralatan.

  • Tempat pemeliharaan ulat kecil sebaiknya dipisahkan dari tempat pemeliharaan ulat besar;
  • Pemeliharaan ulat kecil dilaksanakan pada tempat khusus atau pada Unit Pemeliharaan Ulat Kecil (UPUK);
  • Ruang pemeliharaan harus mempunyai ventilasai dan jendela yang cukup:
  • Bahan-bahan dan peralatan yang perlu disiapkan adalah : Kapur tembok, kaporit/papsol, kotak/rak pemeliharaan, tempat daun, gunting stek, pisau, ember/baskom, jaring ulat, ayakan, kain penutup daun, hulu ayam, kerta alas, kerta minyak/parafin, lap tangan dan lain-lain;
  • Desinfeksi ruangan dan peralatan, dilakukan 2-3 hari sebelum pemeliharaan ulat sutera dimulai, menggunakan larutan kaporit 0,5% atau formalin (2-3%), disemprotkan secara merata;
  • Apabila tempat pemeliharaan ulat kecil berupa UPUK yang berlantai semen, maka setelah didesinfeksi dilakukan pencucian.

c. Pesanan Bibit.

  • Pesanan bibit disesuaikan dengan jumlah daun yang tersedia dan kapasitas ruangan serta peralatan pemeliharaan;
  • Bibit dipesan selambat-lambatnya 10 hari sebelum pemeliharaan ulat dimulai melalui petugas / penyuluh atau langsung kepada produsen telur;
  • Apabila bibit/telur telah diterima, lakukan penanganan telur (inkubasi) secara baik agar penetasannya seragam.

Caranya adalah sebagai berikut :

  • Sebarkan telur pada kotak penetasan dan tutup dengan kertas putih yang tipis;
  • Simpan pada tempat sejuk dan terhindari dari penyinaran matahari langsung, pada suhu ruangan 25° -28° C dengan kelembaban 75-85%;
  • Setelah terlihat bintik biru pada telur, bungkus dengan kain hitam selama $ 2 hari.

III. PELAKSANAAN PEMELIHARAAN ULAT SUTERA

Kegiatan pemeliharaan ulat sutera meliputi pemeliharaan ulat kecil, pemeliharaan ulat besar serta mengokonkan ulat.

a. Pemeliharaan Ulat Kecil

Pemeliharaan ulat kecil didahului dengan kegiatan "Hakitate" yaitu pekerjaan penanganan ulat yang baru menetas disertai dengan pemberian makan pertama.

  • Ulat yang baru menetas didesinfeksi dengan bubuk campuran kapur dan kaporit (95:5), lalu diberi daun murbei yang muda dan segar yang dipotong kecil-kecil;
  • Pindahkan ulat ke sasag kemudian ditutup dengan kertas minyak atau parafin;
  • Pemberian makanan dilakukan 3 kali sehari yakni pada pagi, siang, dan sore hari;
  • Pada setiap instar ulat akan mengalami masa istirahat (tidur) dan pergantian kulit. Apabila sebagian besar ulat tidur ($ 90%), pemberian makan dihentikan dan ditaburi kapur. Pada saat ulat tidur, jendela/ventilasi dibuka agar udara mengalir;
  • Pada setiap akhir instar dilakukan penjarangan dan daya tampung tempat disesuaikan dengan perkembangan ulat;
  • Pembersihan tempat ulat dan pencegahan hama dan penyakit harus dilakukan secara teratur.

Pelaksanaanya sebagai berikut :

  • Pada instar I dan II, pembersihan dilakukan masing-masing 1 kali. Selama instar III dilakukan 1-2 kali yaitu setelah pemberian makan kedua dan menjelang tidur;
  • Penempatan rak/sasag agar tidak menempel pada dinding ruangan dan pada kaki rak dipasang kaleng berisi air, untuk mencegah gangguan semut;
  • Apabila lantai tidak ditembok, taburi kapur secara merata agar tidak lembab;
  • Desinfeksi tubuh ulat dilaksanakan setelah ulat bangun tidur, sebelum pemberian makan pertama.

Penyalur ulat kecil dari UPUK ke tempat pemeliharaan petani / kolong rumah atau Unit Pemeliharaan Ular Besar (UPUB), dilakukan ketika sedang tidur pada instar III. Perlakuan pada saat penyaluran ulat sebagai berikut :

  • Ulat dibungkus dengan menggulung kertas alas;
  • Kedua sisi kertas diikat dan diletakkan pada posisi berdiri agar ulat tidak tertekan;
  • penyaluran ulat sebaiknya dilaksanakan pada pagi atau sore hari.

b. Pemeliharaan Ulat Besar.

Kondisi dan perlakuan terhadap ulat besar berbeda dengan ulat kecil. Ulat besar memerlukan kondisi ruangan yang sejuk. Suhu ruangan yang baik yaitu 24-26° C dengan kelembapan 70-75%.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pemeliharaan ulat besar adalah sebagai berikut :

  • Ulat besar memerlukan ruangan/tempat pemeliharaan yang lebih luas dibandingkan dengan ulat kecil;
  • Daun yang dipersiapkan untuk ulat besar, disimpan pada tempat yang bersih dan sejuk serta ditutup dengan kain basah;
  • Daun murbei yang diberikan pada ulat besar tidak lagi dipotong-potong melainkan secara utuh (bersama cabangnya).
  • Penempatan pakan diselang-selingi secara teratur antara bagian ujung dan pangkalnya;
  • Pemberian makanan pada ulat besar (instar IV dan V) dilakukan 3-4 kali sehari yaitu pada pagi, siang, sore dan malam hari;
  • Menjelang ulat tidur, pemberian makan dikurangi atau dihentikan. Pada saat ulat tidur ditaburi kapur secara merata;
  • Desinfeksi tubuh ulat dilakukan setiap pagi sebelum pemberian makan dengan menggunakan campuran kapur dan kaporit (90:10) ditaburi secara merata;
  • Pada instar IV, pembersihan tempat pemeliharaan dilakukan minimal 3 kali, yaitu pada hari ke-2 dan ke-3 serta menjelang ulat tidur;
  • Pada instar V, pembersihan tempat dilakukan setiap hari;
  • Seperti pada ulat kecil, rak/sasag ditempatkan tidak menempel pada dinding ruangan dan pada kaki rak dipasang kaleng yang berisi air.
  • Apabila lantai ruangan pemeliharaan tidak berlantai semen agar ditaburi kapur untuk menghindari kelembaban tinggi.

c. Mengokonkan Ulat

Pada instar V hari ke-6 atau ke-7 ulat biasanya akan mulai mengokon. Pada suhu rendah ulat akan lebih lambat mengokon. Tanda-tanda ulat yang akan mengokon adalah sebagai berikut :

  • Nafsu makan berkurang atau berhenti makan sama sekali;
  • tubuh ulat menjadi bening kekuning-kuningan (transparan);
  • Ulat cenderung berjalan ke pinggir;
  • Dari mulut ulat keluar serat sutera.

Apabila tanda-tanda tersebut sudah terlihat, maka perlu di ambil tindakan sebagai berikut

  • Kumpulkan ulat dan masukkan ke dalam alat pengokonan yang telah disiapkan dengan cara menaburkan secara merata.
  • Alat pengokonan yang baik digunakan adalah : rotari. Seri frame, pengokonan bambu dan mukade (terbuat dari daun kelapaatau jerami yang dipuntir membentuk sikat tabung).

IV. PANEN DAN PENANGANAN KOKON.

Panen dilakukan pada hari ke-5 atau ke-6 sejak ulat mulai membuat kokon. Sebelum panen, ulat yang tidak mengokon atau yang mati diambil lalu dibuang atau dibakar.

Selanjutnya dilakukan penanganan kokon yang meliputi kegiatan sebagai berikut :

  • Pembersihan kokon, yaitu menghilangkan kotoran dan serat-serat pada lapisan luar kokon;
  • Seleksi kokon, yaitu pemisahan kokon yang baik dan kokon yang cacat/jelek;
  • Pengeringan kokon, yaitu penanganan terhadap kokon untuk mematikan pupa serta mengurangi kadar air dan agar dapat disimpan dalam jangka waktu tertentu;
  • Penyimpanan kokon, dilakukan apabila kokon tidak langsung dipintal/dijual atau menunggu proses pemintalan.

Cara penyimpanan kokon adalah sebagai berikut :

  • Dimasukkan ke dalam kotak karton, kantong kain/kerta;
  • Ditempatkan pada ruangan yang kering atau tidak lembab;
  • Selama penyimpanan, sekali-sekali dijemur ulang di sinar matahari;
  • Lama penyimpanan kokon tergantung pada cara pengeringan, tingkat kekeringan dan tempat penyimpanan.